Subscribe

Postingan Terbaru

Lihat semua

Tuesday, September 23, 2025

PANGGILAN ALAM SEMESTA: PUNCAK KETINGGIAN DAN ARUNIKA

 


PANGGILAN ALAM SEMESTA: PUNCAK KETINGGIAN DAN ARUNIKA

Oleh: Agung Setiawan, S.Pd.

Sub Tema: Cinta Alam Cinta Kehidupan

 

Puncak Ketinggian yang ada dibumi tempat manusia berpijak tidak lain adalah puncak dari sebuah gunung yang terbentang dari sabang sampai dengan marauke. Beberapa orang pergi mengunjunginya untuk menjawab panggilan alam semesta, menyampaikan betapa indahnya alam mini tercipta serta mensyukurinya karena telah lahir dibumi pertiwi dengan segala macam ciptaan-Nya. Udara dingin, embun pagi yang menetes, serta keheningan yang terjadi berbalas dengan indahnya “Arunika” Fajar yang hangat. Kondisi itu seakan membuat siapa yang berkunjung tak ingin semuanya berlalu begitu saja dalam sebuah kenang yang dibawa pulang. Ingin rasanya rutin berkunjung dan mengajak handai taulan merasakan apa yang terjadi. Apakah ini yang Namanya Cinta Alam? Atau hanya sekedar bersyukur atas kehidupan yang Tuhan Berikan.

Arunika yang kau saksikan pada puncak ketinggian itu bukan hanya kemegahan dari sebuah keindahan yang dirasakan oleh fisik dan mata. Melainkan sebuah simbol harap manusia pada sang Pencipta bahwa Alam Perlu kita jaga, kehidupan perlu kita rawat agar bukan hanya engkau saja yang menjadi saksinya. Butuh bukti nyata yang mengejawantahkan apa yang manusia harapkan terwujud. Naik Gunung atau Mendaki Gunung bukan hanya sebatas berada dipuncak ketinggian dan Kembali pulang dengan selamat. Setiap Langkah yang diambil melambangkan betapa alam yang kau nikmati tersebut perlu diperlakukan dengan baik dengan menjaga keasriannya. Namun tetap saja manusia dibumi ini tidak semuanya paham akan cinta alam yang sesungguhnya dengan se-enaknya saja meninggalkan jejak buruk yaitu sampah yang sengaja ia bawa dan tinggalkan dialam yang tentu saja menolaknya jika ia mempunyai mulut untuk bicara. Disisi lain manusia yang memiliki kecintaan kepada alam dengan tulus dan murni tidak membiarkan manusia lain yang tidak bertanggungjawab tersebut berbuat. Mereka yang cintanya Tulus turun tangan bahu membahu mendaki sembari menyapu bersih sampah yang terlihat agar alam menampakan senyumnya bersamaan dengan Arunika yang kau saksikan dipuncak ketinggian pagi itu.

Setidaknya dalam hidup ini pergilah sesekali mendaki rasakan sendiri sensasi yang alam berikan kepada yang datang berkunjung. Nikmati segala lelah, letih dan keringat yang kau dapati dari perjalanannya. Rasakan bagaimana alam bekerja menyeimbangkan ekosistem yang berlangsung. Nikmati suara alam yang jarang kau dapati Ketika berada diperkotaan. Buat kenangan yang bisa kau ceritakan kepada cucumu kelak, bahwa alam dan segala ciptaan-Nya membuatmu kagum betapa sempurnanya Tuhanmu menciptakan keindahan dan keselarasan yang tak mungkin bisa diciptakan oleh selain-Nya.

Saya pernah mendaki gunung gede pangrango yang berada di Jawa Barat, lebih tepatnya gunung tersebut terdapat dibeberapa wilayah seperti sebagian berada di cianjur dan juga sebagian wilayah gunung putri. Perjalanan tersebut dimulai pada hari jum’at malam, kami berangkat bertiga semua persiapan sudah kami siapkan sejak dua minggu menuju keberangkatan hari itu, malam itu kami berangkat dari sebuah kampus yang berada di Jakarta, Universitas Negeri Jakarta. Kami berangkat menggunakan transportasi umum menuju wilayah kaki gunung gede yang berada pada wilayah gunung putri, orang-orang menyebutnya jalur pendakian via gunung putri. Setibanya dilokasi kami menginap untuk menunggu fajar terbit disabtu pagi, saat adzan subuh berkumandang kami bergegas menunaikan ibadah shalat subuh, tak lupa kami memanjatkan do’a agar perjalanan mendaki kami ini diberikan pengalaman yang baik, serta dapat pulang dengan selamat paska pendakian. Kami bertiga pun sarapan untuk menyiapkan tenaga dan semangat yang akan kami gunakan mendaki, sebelum kami benar benar mendaki kami melakukan regristrasi dan pengecekan kesehatan pada pihak pengelola izin pendakian setempat. Setelah semua persyaratan terpenuhi akhirnya kami benar-benar melakukan pendakian bersama dengan para pendaki lainnya. Sabtu pagi yang cerah menjadi saksi kami bertiga memulai pendakian yang sudah kami rencanakan beberapa minggu lalu, angin yang segar udara yang sejuk menemani perjalanan kami menuju pos pendakian yang pertama, perjalanan yang menanjak, berkelok serta jalur yang menjadi ciri khas pendakian kami rasakan, suara burung berkicau, gesekan antara dahan pohon, hingga suara serangga terus terdengar memecah kesunyian alam, seakan memberikan salam kepada siapa saja yang datang berkunjung. Setibanya kami di pos satu kami berkesempatan mengabadikan momen tersebut bersama lutung hitam yang sedang mencari makan, kami disuguhkan oleh atraksi bergelantungan dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Kami bertiga bercanda siapakah yang bisa menirunya, dan kami saling tunjuk dengan gelak tawa seakan teman kamilah yang paling jago atau bahkan bisa mengalahkannya. Sejenak kami beristirahat kami melanjutkan perjalanan ke pos pendakian yang kedua kami melewati vegetasi yang beragam tumbuh-tumbuhan khas hutan seperti pinus dan tanaman paku berada dikiri dan kanan jalur pendakian, pohon-pohon besar tumbuh tanpa adanya gangguan membuat hutan menjadi rumah bagi beranekaragam hewan yang hidup disekitarnya. Waktu terus berjalan kami pun terus melangkah maju hingga kami tiba pada pos pendakian ketiga, kami beristirahat menyantap bekal yang kami bawa serta menunaikan shalat dzuhur, memastikan tenaga kami terisi dan kaki kami siap melangkah lagi menuju tempat dimana kami bisa berdiri diatas lautan awan yang melewati kami. Siang itu kami melanjutkan pendakian menuju pos pendakian ke-empat. Kami melewati savana yang luas disana kami berpapasan dengan awan yang melewati kami tepat dan ternyata awan memang kumpulan air yang menguap keudara kami benar-benar membuktikannya sendiri. Ditengah savana yang luas terdapat satu bendera yang berkibar, bendera tersebut begitu bangga kami temui warna merah yang khas serta warna putih yang suci membuat kami berhenti sejenak untuk hormat kepadanya serta mengambil satu gambar yang akan kita kenang saat pulang nanti. Suryakencana begitu orang menyebut savana yang kami lewati tersebut, diantara ilalang yang berada diujung savana kami bertiga mendirikan tenda untuk kami menginap malam ini. Kami memasak makanan untuk hidangan makan malam, serta menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh, tak lupa menyeduh kopi yang kami bawa agar perbincangan kami bertiga malam itu semakin seru ditemani oleh bintang-bintang yang menghiasi malam kami pun melahap semua topik pembicaraan hingga larut pun tiba kami beristirahat agar selepas subuh kami tunaikan esok, kami bertiga bisa bertemu dengan Arunika.

Malam itu kami lewati dengan aman tak ada gangguan yang kami temui, seakan alam sengaja menjaga kami agar ia dapat bertemu kami lebih lama lagi. Selepas shalat subuh kami bertiga bergegas meninggalkan tenda kami untuk melakukan summit, momentum yang didambakan oleh semua pendaki, yaitu menyambut Arunika dengan berdiri ditempat tertinggi yang kami sebut dengan puncak gunung. Rasa haru yang tak bisa dijelaskan oleh kata, begitu terasa. Apakah ini yang dinamakan dengan mencintai alam? Rasanya begitu bangga bisa berada ditempat dan disituasi ini. Bibir ini berkata alhamdulillah ya Allah engkau tunjukan kami kebesaran akan ciptaan-Mu yang begitu indah. Kami bertiga mengabadikan momentum tersebut bersama bunga edelwise yang kami temui dipuncak tersebut. Dengan penuh Syukur kami bergegas ke tenda kami lagi. Tak lupa sebagai bentuk cinta dan bakti kami kepada alam yang indah ini kami bertiga menyempatkan diri mengambil sampah yang terlihat untuk kami bawa ke kaki gunung untuk melestarikannya. Kami bertiga berharap semua pendaki melakukan hal yang sama agar kelak anak cucu kami tidak hanya mendengar kami bercerita tentang indahnya Arunika yang bisa kau pandang dipuncak gunung yang tinggi.

Cerita yang Panjang ini kami tutup dengan perjalanan ke kaki gunung wilayah cianjur, kami memutuskan tidak kembali ke jalur pendakian yang sama dengan saat kami mendaki, karena perjalanan ini akan kami kenang dikemudian hari, diperjalanan menurun ini kami melewati sumber air panas yang terdapat pada sisi jalur pendakian, kami pun sejenak mencuki kaki kami dan merasakan kehangatan air sambil mengisi kembali tenaga yang sudah hampir habis digunakan dalam dua hari pendakian, ditambah kami membawa cukup banyak sampah yang akan kami setorkan kepada pengelola hutan dan gunung ini. Malam pun tiba kami pun sampai di kaki gunung dan kami pun sudah menyetorkan sampah yang kami bawa. Kami beristirahat dipenginapan sebelum kembali menuju rumah kami masing-masing. Akhirnya selesai sudah perjalanan kami, pesan kami untuk kalian yang membaca artikel ini, “Cintai Alam ini, Cintailah Kehidupan ini” maka kau akan menikmati setiap detik dalam hidupmu yang singkat ini. Terimakasih.

Friday, September 12, 2025

VIDEO UKIN PPG GURU TERTENTU 2025 Agung Setiawan 24105660287 (NOT EDIT)



SUMBER : https://youtu.be/cCD_8oukGMw?si=1lLwnzIP3jhpXhrP

Video UKIN PPG 2025 - Materi K3LH menggunakan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam), semoga bisa menjadi inspirasi, belum sempurna sangat terbuka untuk masukan dan saran yang membangun kedepan. #CatatanGuru #CatatanCooperator - Memori Sebuah Proses.

Video UKIN PPG Guru Tertentu 2025 (Edited)


SUMBER : https://youtu.be/cIsNd9T9XMI?si=gW3S2G3k8ZapY4M0

Video UKIN PPG 2025 - Materi K3LH menggunakan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam), semoga bisa menjadi inspirasi, belum sempurna sangat terbuka untuk masukan dan saran yang membangun kedepan. #CatatanGuru #CatatanCooperator - Memori Sebuah Proses.

Thursday, June 26, 2025

Filosofi pendidikan & pendidikan nilai : Apakah Perlu Perilaku Guru sebagai pendidik diatur?

Guru merupakan profesi yang mulia sehingga marwah tersebut perlu dijaga, sejalan dengan hal tersebut sudah selayaknya profesi guru memiliki kode etik agar sesama guru dapat saling menjaga, mengingatkan dan menjunjung nilai-nilai dari kode etik tersebut menjadi keseharian yang ditunjukkan kepada masyarakat khususnya bagi murid-muridnya dikelas/disekolah.

Saya meyakini bahwa hal ini harus dipahami oleh semua guru di Indonesia, oleh karena itu saya membagikan infografis dari esensi kode etik guru sebagai aksi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat khususnya bagi rekan guru di manapun mereka berada.





"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani"



~ Ki Hajar Dewantara

Etika terhadap ilmu pengetahuan, guru harus memiliki:

1. Integritas intelektual (intellectual integrity)



menghormati hakikat ilmu; dan batang tubuh pengetahuan; hal ini mencakup metodologi 'subjek'— yaitu bagaimana pengetahuan diperoleh, proses penyelidikan, pembuktian, pengujian kebenaran, yang berbeda untuk setiap bidang pengetahuan, dan catatan 'subjek'—yaitu catatan kumulatif praktik metodologi yang telah dilakukan.

2. Integritas kejuruan (vocational integrity)



menghormati pengetahuan, keterampilan dan pengalaman profesional; hal ini mencakup tuntutan untuk tetap mengikuti perkembangan pengetahuan terkini, untuk memperluas wawasan dan repertoar keterampilan serta memadupadankan agar menjadi efektif secara pedagogis sejalan dengan keberagaman peserta didik dalam hal konteks dan latar belakang.





3. Keberanian Moral (moral courage)



menunjukkan kemandirian pikiran dan tindakan; hal ini mencakup kesediaan untuk mengajarkan materi pelajaran atau menggunakan metode yang tidak populer atau secara resmi tidak disukai, jika secara integritas intelektual dan/atau integritas kejuruan sangat dibutuhkan.



Etika terhadap peserta didik, guru harus:

4. Mendahulukan kepentingan orang lain (altruism)



membedakan dan menghormati kepentingan orang yang diajar; hal ini berarti menempatkan kepentingan-kepentingan tersebut di atas kepentingan mereka sendiri, menumbuhkan harga diri yang sesuai pada orang-orang tersebut, dan mengenali bahwa pendidikan adalah proses interaktif, bergantung pada kontribusinya peserta didik dan juga guru.



5. Tidak berpihak (Impartiality)



mengakui saling ketergantungan sosial; hal ini berarti menghindari dan mencegah eksploitasi terhadap satu individu atau kelompok.



6. Memiliki Wawasan Kemanusiaan (Human Insight)



menghormati keluarga dan keadaan sosial orang yang diajar; hal ini melibatkan kepekaan terhadap keberagaman, terhadap keberagaman pengaruh dan menghindari stereotip; serta berusaha untuk memastikan kesetaraan kesempatan pendidikan

7. Memikul Tanggung Jawab Pengaruh (the Responsibility of Influence)



melaksanakan dan menerima tanggung jawab atas pengaruh yang mungkin bersifat jangka panjang; hal ini berarti menyadari bahwa pengalaman di kelas akan membekas dalam ingatan anak-anak, sehingga guru perlu berhati-hati untuk meninggalkan jejak positif dalam kehidupan anak yang diajar.



Etika terhadap profesi, guru harus memiliki:

8. Kerendahan Hati (Humility)



menyadari kekurangan diri sendiri; termasuk bersedia mengakui bahwa seseorang mungkin salah dalam kaitannya dengan pengetahuan dan perilaku.



9. Kolegialitas (Collegiality)



menghormati dan bekerja sama dengan rekan kerja profesional; hal ini mencakup mendengarkan dan belajar dari orang lain, serta menyadari bahwa setiap disiplin ilmu memiliki kesamaan dan perbedaan menerima tugas untuk bekerja sama demi kepentingan mereka yang diajar.



10. Kemitraan (Partnership)



mengakui dan menerima kontribusi mereka yang diajar dan rekan dalam mengajar; hal ini mencakup mempertimbangkan dan memanfaatkan sejauh mungkin, bakat dan keahlian mereka yang diajar, serta situasi sosial dan keluarga mereka.



11. Tanggung jawab dan aspirasi profesi (Professional Responsibilities and Aspirations)



bersedia mengedepankan nilai-nilai profesional, keahlian dan minat, dengan cara memberikan tanggapan secara terbuka mengenai kebijakan pendidikan; hal ini berarti berbicara dan menulis secara terbuka tentang dampak kebijakan publik untuk praktik pendidikan.















Wednesday, May 28, 2025

Anda Selalu Memilih

 


Dalam sebuah sub bab dari buku yang saya baca, disana tertulis "Anda Selalu memilih"


Artinya kurang lebih pilihan apapun yang kau pilih atau bahkan jika kau tak memilih pun itu adalah sebuah "pilihan" Hal yang tak bisa kau elakkan, hal ini terjadi karena dunia terus bergerak, yang artinya kau tidak pernah berdada ditempat yang sama, untuk itulah kau harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini, serta belajarlah dari masa lalu.

Sebuah refleksi, bagi mereka yang berpikir, dan berusaha untuk terus maju walaupun kepastian dimasa depan adalah sebuah keniscayaan dari perbuatan kita hari ini.

Teruslah berbuat baik, tetaplah menjadi baik, dan berbaik sangkalah setiap saat, karena bisa jadi jika kau tidak bisa menemukan kebaikan, kau adalah kebaikan itu sendiri yang akan ditemukan oleh orang lain.


Agung Setiawan, 27 Mei 2025
#menulis #membaca

Thursday, November 21, 2024

Bagaimana Cara Menghitung Sisa Hasil Usaha (SHU) pada Koperasi?

 










Bagaimana Cara Menghitung Sisa Hasil Usaha (SHU) pada Koperasi?

Koperasi merupakan entitas bisnis yang berbeda dari perusahaan umum. Salah satu aspek yang membedakannya adalah pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada anggota sebagai bentuk keuntungan. Menghitung SHU dengan benar adalah langkah penting untuk memastikan keadilan dan kesetaraan di antara anggota koperasi. Artikel ini akan membahas langkah-langkah cara menghitung SHU pada koperasi.


1. Hitung Keuntungan Bersih (Net Income)

Langkah pertama dalam menghitung SHU adalah mengidentifikasi dan menghitung keuntungan bersih yang diperoleh oleh koperasi selama periode tertentu. Keuntungan bersih dihitung dengan mengurangkan semua biaya operasional dan beban lainnya dari total pendapatan koperasi.

 

2. Pertimbangkan Dana Cadangan

Setelah mendapatkan keuntungan bersih, pertimbangkan apakah koperasi mengalokasikan sebagian dari keuntungan tersebut untuk dana cadangan. Dana cadangan adalah bagian dari keuntungan yang disisihkan untuk mengatasi risiko atau investasi masa depan. Jika dana cadangan telah di alokasikan, kurangkan jumlah tersebut dari keuntungan bersih.


3. Proses Perhitungan Pembagian

Setelah dikurangi dengan Dana Cadangan Koperasi Juga dapat menyisihkan sebagian keuntungannya untuk keperluan anggota yang disetujui oleh rapat anggota (contoh : dana pendidikan anggota). Setelah Semua Alokasi Tersebut Selesai dilakukan maka Anggota Berhak mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) dengan cara pembagian sebagai berikut:

a. Pembagian Berdasarkan Jasa Transaksi Anggota (SHU Berdasarkan Transaksi yang dilakukan Kepada Koperasi).

b. Pembagian Berdasarkan Simpanan Anggota (SHU Berdasarkan Simpanan-Simpanan yang disetorkan Anggota Kepada Koperasi).

Rumus Perhitungannya ditetapkan dalam Anggaran dasar Koperasi (Contoh 60% dari Jasa Koperasi dan 40 % dari Simpanan Anggota).


Studi Kasus Perhitungannya

Koperasi Sejahteran membagikan SHU kepada 100 anggota koperasi yang terdafatar dalam buku daftar anggota sebesar Rp 200.000.000,- setelah dikurangi dana cadangan dan alokasi lainnya. dengan ketentuan 60% SHU berdasarkan Transaksi dan 40% bedasarkan Simpanan.

Andi Memiliki Jasa Transaksi kepada Koperasi Sebanyak Rp. 7.000.000,- dari Total Transaksi Rp 700.000.000,- dan Andi memiliki Simpanan Wajib dan Suka Rela pada koperasi sebesar Rp 3.000.000,- dari Total Simpanan Anggota sebesar Rp 300.000.000,- sehingga perhitungannya menjadi :

60% x 200.000.000 = 120.000.000 dialokasikan untuk SHU Transaksi 
40% x 200.000.000 =   80.000.000 dialokasikan untuk SHU Simpanan

(7.000.000/700.000.000 x 120.000.000) + (3.000.000/300.000.000 x 80.000.000) =
1.200.000 + 800.000 = 2.000.000

Andi Mendapatkan SHU sebesar Rp 2.000.000 ,-

Begitulah cara SHU koperasi dibagikan kepada Anggotanya.

Wednesday, September 11, 2024

Demokrasi Saja Berjalan Terseok-seok - Apalagi Demokrasi Ekonomi?






Demokrasi Saja Berjalan Terseok-seok - Apalagi Demokrasi Ekonomi?

Oleh: Agung Setiawan

 

Demokrasi adalah jalan yang dipilih oleh bangsa Indonesia karena bangsa ini percaya bahwa perbedaan yang ada di indonesia merupakan suatu kekuatan yang membuat negara ini meraih kemerdekaannya sesuai dengan semboyan negara “Bhineka Tunggal Ika” Berbeda-beda tapi tetap satu” yaitu “Bangsa Indonesia”.

 

Tujuh puluh sembilan tahun (79th) Indonesia merdeka, nampaknya ada hal yang mengganggu kemedekaan yang dirasakan kita saat ini sehingga membuat Indonesia sedang mengalami masa-masa yang sulit bagi demokrasi, demokrasi seakan menjadi bias dimasyarakat, timbul banyak pertanyaan yang entah siapa yang harus menjawabnya atau siapa yang bertanggungjawab akan hal tersebut.

 

Berangkat dari masyarakat Indonesia yang pada lima tahun sekali melaksanakan “Hajatan Demokrasi” melalui pemilihan umum yang bersifat pemilihan langsung dengan ketentuan satu orang satu suara memilih pemimpin bangsa serta memilih dewan perwakilan rakyat yang kemudian juga diikuti dengan memilih kepala daerah dimasing-masing wilayah diseluruh Indonesia.

 

Pemilihan umum tersebut adalah bentuk teknis dari demokrasi yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Pemilihan umum ini mengakumulasi suara rakyatnya sebagai pemilih yang merupakan bentuk amanat yang dititipkan dan merupakan aspirasi yang diberikan dan disampaikan kepada calon pemimpin dan wakil rakyat dalam rangka menjani hidup berbangsa dan bernegara dalam trias politika kepemimpinan Indonesia.

 

Pemilhan umum yang sejatinya bernafaskan Pancasila, yang berlandaskan konstitusi negara seraya menjadi pertunjukan politik yang carut-marut diberbagai wilayah, hal ini disaksikan dan dipertontonkan kepada masyarakat secara jelas, dengan menyajikan bagaimana demokrasi “diakali” dengan berbagai cara serta “diobok-obok” menggunakan perangkat negara melalui “kekuasaan”. Peraturan-peraturan dan berbagai macam perangkat hukum diatur demi kepentingan elit politik sehingga seolah-olah demokarasi masih berjalan sebagaimana mestinya. Padahal rakyat Indonesia tidak semuanya “bodoh” rakyat mengerti bagaimana para penguasa berusaha mencari celah demi kepentingan-kepentingan para penguasa bersama dengan oligarki yang membersamai “mereka”.

 

Dengan demokrasi yang kita hadapi sekarang dan kita saksikan bersama-sama tersebut berlangsung, ada yang perlu kita ketahui bersama-sama bahwa demokrasi politik (demokrasi kepemimpinan) hanyalah sebagian dari demokrasi yang seharusnya berjalan, ada sebagian demokrasi yang lain yakni demokrasi ekonomi yang sampai hari ini masih jarang kita sentuh atau bahkan belum negara agendakan sehingga “bagaimana mungkin” kita bisa menjalani demokrasi yang utuh jika dari segi demokrasi politiknya saja sudah “terseok-seok” begini.

 

Perlu kita sadari bahwa selain demokrasi politik yang berjalan, seharusnya ada demokrasi ekonomi yang juga ikut berjalan secara beriringan, membangun dan meratakan kesejahteraan sebagai bentuk cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan konstitusi negara kita “undang-undang dasar 1945”, yaitu “serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 

Mengutip dari kalimat yang disampaikan oleh Halida Hatta, Putri Bungsu dari bung “Hatta” seorang proklamator dan juga bapak koperasi Indonesia. Dalam Artikel yang telah tayang di Kompas.com dengan judul "Halida Hatta di Kamisan Ke-828: Demokrasi Dikangkangi Kesewenang-wenangan" Ia (Halida Hatta) menyampaikan “Seandainya Ayah saya dapat menyaksikan Indonesia pada usia kemerdekaannya yang ke-79 tahun, saya yakin hatinya hancur melihat demokrasi di negaranya tercinta ini, saat ini, dikakangi berbagai kesewenang-wenangan.”

 

Bung hatta yang merupakan bapak koperasi Indonesia adalah salah satu orang yang menyuarakan demokrasi di Indonesia baik secara formal (proses politik) maupun secara akademis lewat karya-karyanya berupa buku, artikel, pidato dan ceramah kuliahnya (seminar). Selain demokrasi politik ide mengenai demokrasi ekonomi selalu menjadi isu yang disuarakan oleh bung hatta karena hal tersebut tidak bisa dipisahkan dalam proses demokrasi, hatta mengejawantahkan bentuk teknis dari demokrasi ekonomi melalui usaha bersama yang dikendalikan secara bersama-sama dengan semua sumberdaya yang dikelola akan menjadi nilai tambah bagi semuanya secara adil berbanding dengan kontribusi yang dilakukan oleh setiap individunya, bentuk dari usaha bersama itu adalah “Koperasi” yang diadaptasi dari berbagai koperasi diberbagai belahan dunia.

 

Koperasi merupakan wadah usaha bersama yang menempatkan manusia sebagai modal utama dan menjadikan modal (harta/uang) sebagai alat bantu dalam mewujudkan tujuan bersama yaitu “kesejahteraan”, kesejahteraan yang dimaksud adalah terpenuhinya berbagai macam kebutuhan mulai dari kebutuhan primer hingga ke kebutuhan yang memang dikehendaki oleh seluruh anggota koperasi. Koperasi juga tidak hanya berfokus pada bisnis saja, nemun juga koperasi berfokus membangun seluruh anggotanya mencapai kesetaraan mulai dari Pendidikan, kemampuan/keahlian, hingga peran antara laki-laki dan juga Perempuan, selain itu juga koperasi berazaskan one man one vote sehingga semua orang berhak bersuara dan berpendapat untuk kemajuan dari koperasinya.

 

Koperasi di Indonesia masih menjadi sesuatu yang kurang populer sangat berbanding jauh dengan di spanyol khususnya di barcelona yang memiliki koperasi pekerja terbesar di dunia yaitu “Mondragon Cooperative” koperasi pekerja yang memiliki 120’an lebih Perusahaan dibawah koperasinya, yang memiliki tagline “Worker is Owner” jika diterjemahkan “pekerja adalah pemilik” jika membandingkan dengan yang ada di Indonesia, Indonesia mengadaptasi koperasi pekerja dengan perspektif yang berbeda dengan nomenklatur yang juga sangat jauh berbeda yaitu “koperasi karyawan” yang dimana koperasi tersebut merupakan kumpulan karyawan yang melakukan iuran yang dimana bisnis yang dijalankan kebanyakan hanyalah usaha simpan pinjam yang pada praktiknya hanya dijadikan sebagai “tempat meminjam” para anggotanya. sangat berbeda dengan Mondragon Cooperative (koperasi Mondragon) yang mampu membuat banyak Perusahaan dengan berbagai jenis usaha bahkan sampai membuat universitasnya sendiri untuk menunjang Pendidikan para anggotanya sehingga mewujudkan sumberdaya manusia yang mampu bersaing dan membuat demokrasi yang tumbuh juga lebih sehat dengan pengetahuan yang setara.

 

Agenda-agenda mengenai demokrasi ekonomi ini minim atensi sehingga Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari berjalannya demokrasi ekonomi yang sesungguhnya terlebih lagi proses demokrasi politik hari sangat memprihatinkan, seperti apa yang sudah disampaikan oleh Halida Hatta “Seandainya Ayah saya dapat menyaksikan Indonesia pada usia kemerdekaannya yang ke-79 tahun, saya yakin hatinya hancur melihat demokrasi di negaranya tercinta ini, saat ini, dikakangi berbagai kesewenang-wenangan.”

 

Bekasi, 11 September 2024

Agung Setiawan, Hc.

Profile Penulis

Kata Pembaca

Galeri