PANGGILAN ALAM SEMESTA: PUNCAK KETINGGIAN DAN ARUNIKA

 


PANGGILAN ALAM SEMESTA: PUNCAK KETINGGIAN DAN ARUNIKA

Oleh: Agung Setiawan, S.Pd.

Sub Tema: Cinta Alam Cinta Kehidupan

 

Puncak Ketinggian yang ada dibumi tempat manusia berpijak tidak lain adalah puncak dari sebuah gunung yang terbentang dari sabang sampai dengan marauke. Beberapa orang pergi mengunjunginya untuk menjawab panggilan alam semesta, menyampaikan betapa indahnya alam mini tercipta serta mensyukurinya karena telah lahir dibumi pertiwi dengan segala macam ciptaan-Nya. Udara dingin, embun pagi yang menetes, serta keheningan yang terjadi berbalas dengan indahnya “Arunika” Fajar yang hangat. Kondisi itu seakan membuat siapa yang berkunjung tak ingin semuanya berlalu begitu saja dalam sebuah kenang yang dibawa pulang. Ingin rasanya rutin berkunjung dan mengajak handai taulan merasakan apa yang terjadi. Apakah ini yang Namanya Cinta Alam? Atau hanya sekedar bersyukur atas kehidupan yang Tuhan Berikan.

Arunika yang kau saksikan pada puncak ketinggian itu bukan hanya kemegahan dari sebuah keindahan yang dirasakan oleh fisik dan mata. Melainkan sebuah simbol harap manusia pada sang Pencipta bahwa Alam Perlu kita jaga, kehidupan perlu kita rawat agar bukan hanya engkau saja yang menjadi saksinya. Butuh bukti nyata yang mengejawantahkan apa yang manusia harapkan terwujud. Naik Gunung atau Mendaki Gunung bukan hanya sebatas berada dipuncak ketinggian dan Kembali pulang dengan selamat. Setiap Langkah yang diambil melambangkan betapa alam yang kau nikmati tersebut perlu diperlakukan dengan baik dengan menjaga keasriannya. Namun tetap saja manusia dibumi ini tidak semuanya paham akan cinta alam yang sesungguhnya dengan se-enaknya saja meninggalkan jejak buruk yaitu sampah yang sengaja ia bawa dan tinggalkan dialam yang tentu saja menolaknya jika ia mempunyai mulut untuk bicara. Disisi lain manusia yang memiliki kecintaan kepada alam dengan tulus dan murni tidak membiarkan manusia lain yang tidak bertanggungjawab tersebut berbuat. Mereka yang cintanya Tulus turun tangan bahu membahu mendaki sembari menyapu bersih sampah yang terlihat agar alam menampakan senyumnya bersamaan dengan Arunika yang kau saksikan dipuncak ketinggian pagi itu.

Setidaknya dalam hidup ini pergilah sesekali mendaki rasakan sendiri sensasi yang alam berikan kepada yang datang berkunjung. Nikmati segala lelah, letih dan keringat yang kau dapati dari perjalanannya. Rasakan bagaimana alam bekerja menyeimbangkan ekosistem yang berlangsung. Nikmati suara alam yang jarang kau dapati Ketika berada diperkotaan. Buat kenangan yang bisa kau ceritakan kepada cucumu kelak, bahwa alam dan segala ciptaan-Nya membuatmu kagum betapa sempurnanya Tuhanmu menciptakan keindahan dan keselarasan yang tak mungkin bisa diciptakan oleh selain-Nya.

Saya pernah mendaki gunung gede pangrango yang berada di Jawa Barat, lebih tepatnya gunung tersebut terdapat dibeberapa wilayah seperti sebagian berada di cianjur dan juga sebagian wilayah gunung putri. Perjalanan tersebut dimulai pada hari jum’at malam, kami berangkat bertiga semua persiapan sudah kami siapkan sejak dua minggu menuju keberangkatan hari itu, malam itu kami berangkat dari sebuah kampus yang berada di Jakarta, Universitas Negeri Jakarta. Kami berangkat menggunakan transportasi umum menuju wilayah kaki gunung gede yang berada pada wilayah gunung putri, orang-orang menyebutnya jalur pendakian via gunung putri. Setibanya dilokasi kami menginap untuk menunggu fajar terbit disabtu pagi, saat adzan subuh berkumandang kami bergegas menunaikan ibadah shalat subuh, tak lupa kami memanjatkan do’a agar perjalanan mendaki kami ini diberikan pengalaman yang baik, serta dapat pulang dengan selamat paska pendakian. Kami bertiga pun sarapan untuk menyiapkan tenaga dan semangat yang akan kami gunakan mendaki, sebelum kami benar benar mendaki kami melakukan regristrasi dan pengecekan kesehatan pada pihak pengelola izin pendakian setempat. Setelah semua persyaratan terpenuhi akhirnya kami benar-benar melakukan pendakian bersama dengan para pendaki lainnya. Sabtu pagi yang cerah menjadi saksi kami bertiga memulai pendakian yang sudah kami rencanakan beberapa minggu lalu, angin yang segar udara yang sejuk menemani perjalanan kami menuju pos pendakian yang pertama, perjalanan yang menanjak, berkelok serta jalur yang menjadi ciri khas pendakian kami rasakan, suara burung berkicau, gesekan antara dahan pohon, hingga suara serangga terus terdengar memecah kesunyian alam, seakan memberikan salam kepada siapa saja yang datang berkunjung. Setibanya kami di pos satu kami berkesempatan mengabadikan momen tersebut bersama lutung hitam yang sedang mencari makan, kami disuguhkan oleh atraksi bergelantungan dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Kami bertiga bercanda siapakah yang bisa menirunya, dan kami saling tunjuk dengan gelak tawa seakan teman kamilah yang paling jago atau bahkan bisa mengalahkannya. Sejenak kami beristirahat kami melanjutkan perjalanan ke pos pendakian yang kedua kami melewati vegetasi yang beragam tumbuh-tumbuhan khas hutan seperti pinus dan tanaman paku berada dikiri dan kanan jalur pendakian, pohon-pohon besar tumbuh tanpa adanya gangguan membuat hutan menjadi rumah bagi beranekaragam hewan yang hidup disekitarnya. Waktu terus berjalan kami pun terus melangkah maju hingga kami tiba pada pos pendakian ketiga, kami beristirahat menyantap bekal yang kami bawa serta menunaikan shalat dzuhur, memastikan tenaga kami terisi dan kaki kami siap melangkah lagi menuju tempat dimana kami bisa berdiri diatas lautan awan yang melewati kami. Siang itu kami melanjutkan pendakian menuju pos pendakian ke-empat. Kami melewati savana yang luas disana kami berpapasan dengan awan yang melewati kami tepat dan ternyata awan memang kumpulan air yang menguap keudara kami benar-benar membuktikannya sendiri. Ditengah savana yang luas terdapat satu bendera yang berkibar, bendera tersebut begitu bangga kami temui warna merah yang khas serta warna putih yang suci membuat kami berhenti sejenak untuk hormat kepadanya serta mengambil satu gambar yang akan kita kenang saat pulang nanti. Suryakencana begitu orang menyebut savana yang kami lewati tersebut, diantara ilalang yang berada diujung savana kami bertiga mendirikan tenda untuk kami menginap malam ini. Kami memasak makanan untuk hidangan makan malam, serta menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh, tak lupa menyeduh kopi yang kami bawa agar perbincangan kami bertiga malam itu semakin seru ditemani oleh bintang-bintang yang menghiasi malam kami pun melahap semua topik pembicaraan hingga larut pun tiba kami beristirahat agar selepas subuh kami tunaikan esok, kami bertiga bisa bertemu dengan Arunika.

Malam itu kami lewati dengan aman tak ada gangguan yang kami temui, seakan alam sengaja menjaga kami agar ia dapat bertemu kami lebih lama lagi. Selepas shalat subuh kami bertiga bergegas meninggalkan tenda kami untuk melakukan summit, momentum yang didambakan oleh semua pendaki, yaitu menyambut Arunika dengan berdiri ditempat tertinggi yang kami sebut dengan puncak gunung. Rasa haru yang tak bisa dijelaskan oleh kata, begitu terasa. Apakah ini yang dinamakan dengan mencintai alam? Rasanya begitu bangga bisa berada ditempat dan disituasi ini. Bibir ini berkata alhamdulillah ya Allah engkau tunjukan kami kebesaran akan ciptaan-Mu yang begitu indah. Kami bertiga mengabadikan momentum tersebut bersama bunga edelwise yang kami temui dipuncak tersebut. Dengan penuh Syukur kami bergegas ke tenda kami lagi. Tak lupa sebagai bentuk cinta dan bakti kami kepada alam yang indah ini kami bertiga menyempatkan diri mengambil sampah yang terlihat untuk kami bawa ke kaki gunung untuk melestarikannya. Kami bertiga berharap semua pendaki melakukan hal yang sama agar kelak anak cucu kami tidak hanya mendengar kami bercerita tentang indahnya Arunika yang bisa kau pandang dipuncak gunung yang tinggi.

Cerita yang Panjang ini kami tutup dengan perjalanan ke kaki gunung wilayah cianjur, kami memutuskan tidak kembali ke jalur pendakian yang sama dengan saat kami mendaki, karena perjalanan ini akan kami kenang dikemudian hari, diperjalanan menurun ini kami melewati sumber air panas yang terdapat pada sisi jalur pendakian, kami pun sejenak mencuki kaki kami dan merasakan kehangatan air sambil mengisi kembali tenaga yang sudah hampir habis digunakan dalam dua hari pendakian, ditambah kami membawa cukup banyak sampah yang akan kami setorkan kepada pengelola hutan dan gunung ini. Malam pun tiba kami pun sampai di kaki gunung dan kami pun sudah menyetorkan sampah yang kami bawa. Kami beristirahat dipenginapan sebelum kembali menuju rumah kami masing-masing. Akhirnya selesai sudah perjalanan kami, pesan kami untuk kalian yang membaca artikel ini, “Cintai Alam ini, Cintailah Kehidupan ini” maka kau akan menikmati setiap detik dalam hidupmu yang singkat ini. Terimakasih.

Comments